文章
  • 文章
国际

Polda Metro Jaya:Masyarakat kalau menangkap pencuri jangan main hakim sendiri

2017年8月5日上午11:32发布
2017年8月5日上午11:32更新

DIBAKAR。 Seorang pria dibakar hidup-hidup pada Selasa,1 Agustus karena diduga telah mencuri alat pengeras suara musala di Babelan,Bekasi。 Ilustrasi oleh Rappler

DIBAKAR。 Seorang pria dibakar hidup-hidup pada Selasa,1 Agustus karena diduga telah mencuri alat pengeras suara musala di Babelan,Bekasi。 Ilustrasi oleh Rappler

雅加达,印度尼西亚 - Polisi masih mendalami peristiwa pembakaran hidup-hidup seorang pria di Babelan,Bekasi pada Selasa,1 Agustus lalu。 Pria yang diketahui berinisial MA itu dikeroyok oleh massa dan dibakar hidup-hidup karena diduga mencuri amp sebuah musala。

“Kami masih memeriksa beberapa saksi,apa benar yang bersangkutan diduga pelaku ini yang mencuri amplifier di masjid。 Ini masih kami lakukan penyelidikan。 Kemudian,kami harus bisa pastikan apakah ia pencuri atau tidak,“ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya,Kombes Pol Argo Yuwono di Mapolda pada Jumat,4 Agustus。

Polisi akan meminta keterangan para saksi yang dianggap melihat awal peristiwa hingga MA meninggal secara mengenaskan karena telah dituduh mencuri。

“Ya,kalau misalnya 放大器 dibawa sama dia,ada orang yang melihat dia ngambil,nanti kami cek saksi yang melihat dia mengambil放大器,saksi yang melihat dia masuk dan saat dia dikejar apakah ia membawa barang bukti atau tidak,”kata Argo。

Mantan Kabid Humas Polda Jawa Timur itu menyayangkan tindakan sekelompok warga yang langsung main hakim sendiri kepada MA。 Padahal,belum tentu ia melakukan perbuatan tersebut。 Menurut Argo,seharusnya masyarakat bisa menahan diri dan menyerahkan terduga pelaku ke polisi。

“Jangan justru主要hakim sendiri。 Sesuai Undang-Undang langsung serahkan ke polisi。 Kalau主要hakim sendiri ya salah,“katanya lagi。

Oleh sebab itu,polisi kini tengah memburu warga yang ikut terlibat dalam aksi pengeroyokan dan pembakaran MA hingga tewas secara mengenaskan。

MA dikeroyok dan dibakar hidup-hidup oleh warga pada Selasa,1 Agustus lalu sekitar pukul 16:30 WIB。 Ia dibakar hidup-hidup karena diduga telah mencuri pengeras suara milik musala Al-Hidayah di Desa Hurip Jaya,Kecamatan Babelan,Kabupaten Bekasi。

Kapolres Metro Bekas,Kombes Asep Adi Saputra membenarkan insiden tersebut。

“Peristiwa tersebut benar adanya usai kami memperoleh berbagai petunjuk dari saksi yang telah melaporkan。 Benar juga orang yang diduga pelaku(pencurian)meninggal dunia,dikeroyok massa dan dilaporkan sebagai pengambil barang tersebut,“ujar Asep。

Dugaan pencurian diketahui dari kesaksian marbot dan pengelola musala。 Keduanya telah dimintai keterangan oleh polisi。 MA telah diamati oleh saksi sejak kedatangannya ke musala tersebut。

“Orang tersebut datang menggunakan motor dan memang benar membawa amplifier lainnya sebanyak dua buah ada di motornya,”katanya。

Menurut keterangan saksi,MA saat itu datang dengan gerak-gerik mencurigakan。 Salah satu marbot masjid melihat MA mengambil air wudhu dan masuk ke dalam musala。

Tetapi,tidak berapa喇嘛,MA keluar dan meninggalkan musala。 Setelah dilihat ke dalam mushala,saksi melihat alat pengeras suara yang ada dalam musala sudah hilang。

Akhirnya pengelola musala mengejar pelaku,namun tidak ditemukan。 Saat mereka berbalik arah untuk kembali,ternyata berpapasan dengan MA。 MA pun ditegur dan diminta mengembalikan alat pengeras suara yang diduga telah dicuri dari musala。

“Namun saat ditanya pelaku langsung lari dan meninggalkan motor。 Sehingga akhirnya didapati oleh masyarakat dan terjadi pengeroyokan sampai pada pembakaran orang yang diduga sebagai pelaku itu,“kata Asep。

Setelah kejadian pengeroyokan tersebut,polisi melakukan olah TKP dan didapati beberapa barang bukti。 Di antaranya satu unit sepeda motor milik MA。

Kemudian,dua pentras di motor tersebut,lalu satu alat pengeras yang ada di tas gendong warna hitam。 Asep mengatakan,alat pengeras suara yang menjadi barang bukti diakui milik musala。

Asep mengatakan,MA sehari-harinya diketahui sebagai teknisi atau menjual jasa servis barang-barang elektronik。 - Rappler.com