文章
  • 文章
国际

Polisi:Alzahra terbukti mencuri alat pengeras suara musala di Bekasi

2017年8月10日上午10:49发布
更新时间:2017年8月10日上午10:49

DIBAKAR。 Seorang pria dibakar hidup-hidup pada Selasa,1 Agustus karena diduga telah mencuri alat pengeras suara musala di Babelan,Bekasi。 Ilustrasi oleh Rappler

DIBAKAR。 Seorang pria dibakar hidup-hidup pada Selasa,1 Agustus karena diduga telah mencuri alat pengeras suara musala di Babelan,Bekasi。 Ilustrasi oleh Rappler

雅加达,印度尼西亚 - Kepolisian akhirnya memastikan bahwa M. Alzahra atau Joya memang telah mencuri alat pengeras suara musala pada Selasa,1 Agustus。 Hal itu terungkap berdasarkan kesaksian marbot Musala Al-Hidayah bernama Rojali。

Ia mengaku sempat berpapasan dengan Joya。 Tapi,ketika dicurigai bahwa Joya telah mencuri alat pengeras suara,pria berusia 30 tahun itu sudah keburu kabur。 Rojali kemudian berupaya mengejar ke Tempat Kejadian Perkara(TKP)。

“Rojali ini marbot杨memergoki peristiwa itu。 Tapi,bukan memergoki saat(alat pengeras suara)diambil ya。 Tapi,ketika dicurigai si MA yang ambil。 Dia kemudian mengejar ke TKP,“ujar Kapolres Metro Bekasi,Komisaris Besar Polisi Asep Adi Saputra di markas Polda Metro Jaya pada Rabu,9 Agustus。

Di perempatan jalan,Joya sempat terjatuh。 Rojali双关语akhirnya berhasil mengejar Joya。 Kemudian,ia memeriksa tas yang dibawa oleh Joya dan menemukan ada alat pengeras suara。 Joya mengaku alat pengeras suara itu memang milik musala。 Selain itu,dua alat pengeras suara lainnya ditemukan di tas Joya yang hingga kini masih ditelusuri asalnya。

“Jadi,saksi Rojali mutlak menemukan ada ampli(alat pengeras suara)berada pada MA。 Kemudian,setelah memastikan tersangka tak melarikan diri,di situlah peristiwa pengeroyokan terjadi。 Rojali sempat berteriak'ini bukan maling motor,tapi maling ampli,'“ujar Asep menirukan kalimat Rojali。

Joya saat itu bahkan sempat mencium kaki Rojali untuk meminta maaf karena telah mencuri alat pengeras musala。 Tetiba,warga yang sudah terlanjur tersulut emosi justru menghakimi Joya。 Rojali mengaku sempat melerai agar Joya tidak dikeroyok。 Tetapi,warga sudah kadung emosi。

Selain itu,jumlah massa di lokasi semakin tidak terbendung。

“Maafkan saya,Pak Ustadz,kata MA。 Massa waktu itu sudah tidak terbendung dan Rojali sempat menghalau,tapi massa tidak berimbang sehingga terjadi pengeroyokan yang menewaskan MA,“kata Asep lagi。

Rojali yakin kalau salah satu alat pengeras suara yang dibawa oleh Joya milik Musala Al-Hidayah。 Sebab,jika dilihat dari ciri-ciri fisiknya,sangat mirip。 Rojali yang menjadi marbot di musala mengaku sangat mengenali alat pengeras suara itu。

“Fakta ya,ampli itu di casingnya ada kotoran burung。 Kenapa ada di musala karena musalanya enggak sempurna di bagian atapnya。 Burung itu suka mengeluarkan kotoran yang jatuh ke bawah dan mengenai casing。 Rojali juga menunjukkan kuitansi pembelian dengan kode produksi yang sama dengan ampli itu,“tuturnya。

Kendati sudah terbukti,namun polisi tetap mengimbau agar masyarakat tidak bertindak main hakim sendiri。 Jika memang ada pelanggaran hukum seharusnya terduga pelaku diserahkan ke polisi dan bukan dikeroyok apalagi dibakar hidup-hidup hingga tewas。 - Rappler.com

BACA JUGA: