文章
  • 文章
国际

Ridwan Kamil:Jadi gubernur dulu,baru masuk partai

发布于2017年8月24日下午2:47
2017年8月24日下午2:47更新

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang akan maju dalam bursa Pilgub Jawa Barat。 Foto oleh Yuli Saputra / Rappler

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang akan maju dalam bursa Pilgub Jawa Barat。 Foto oleh Yuli Saputra / Rappler

BANDUNG,印度尼西亚 - Transaksi politik yang terjadi menjelang pemilihan kepala daerah sudah lumrah terjadi。 Sebab partai politik biasanya menawarkan sejumlah syarat kepada calon yang akan diusungnya。 Syarat itu bisa jadi dalam bentuk mahar atau tawaran menjadi kader partai politik tersebut。

Seperti yang terjadi pada Deddy Mizwar。 Wakil Gubernur Jawa Barat yang tadinya tidak berpartai ini,akhirnya menyatakan diri sebagai kader Partai Gerakan Indonesia Raya(Gerindra)。

Deddy mengakui,alasan dirinya masuk ke partai berlambang Garuda ini karena akan diusung oleh Gerindra yang mensyaratkan calon hanya dari kader partainya。 “(Ya)gak apa-apa(jadi kader),Gerindra kan bukan partai terlarang。 Jadi kader karena maju atas nama Gerindra berkoalisi dengan PKS,“ujar Deddy beberapa waktu lalu。

Tapi berbeda dengan Ridwan Kamil。 Meski telah resmi dideklarasikan sebagai calon gubernur oleh Partai Nasional Demokrat,tapi Kang Emil -panggilan akrabnya- tidak lantas menjadi kader partai yang dipimpin oleh Surya Paloh itu。

Hal itulah yang menjadi alasan Ridwan Kamil mau diusung oleh Nasdem karena tanpa syarat menjadi kader partai.Kepada partai politik yang berniat mengusungnya sebagai calon gubernur di Pilgub Jabar 2018 mendatang,Emil dengan tegas menyatakan hanya akan menjadi kader partai setelah menjadi gubernur。

“Saya bisa jadi kader,setelah jadi gubernur。 Itu catatannya。 Nasehat ibu saya,jangan jadi kader sebelum jadi gubernur,“kata Emil di Taman Sejarah Kota Bandung,Kamis 24 Agustus 2017。

Sejauh ini,Emil baru diusung oleh Nasdem yang hanya memiliki 5 kursi di DPRD Jawa Barat。 Pria yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Bandung ini masih membutuhkan 15 kursi lagi untuk bisa dicalonkan sebagai Calon Gubernur Jawa Barat periode mendatang。

Syarat jumlah kursi itu akan bisa dipenuhi jika Emil jadi diusung oleh koalisi lima partai。 Kelima partai itu adalah Partai Amanat Nasiional(PAN),Partai Kebangkitan Bangsa(PKB),Partai Persatuan Pembangunan(PPP),Partai Demokrat,dan Partai Hanura。

Koalisi lima partai itu akan menentukan siapa calon wakil gubernur yang akan mendampingi lelaki bernama lengkap Muhammad Ridwan Kamil itu.Mengenai hal itu,Emil mengaku masih terus menjalin komunikasi dengan kelima partai politik tersebut。

“Sedang dan masih terus berkomunikasi karena tidak mudah menyatukan dalam politik berbagai partai yang berbeda。 Harus ada batu turun keusik naik (batu turun pasir naik atau negosiasi),saya dapat apa dan sebagainya,“kata Emil。

Dinamika politik saat ini,kata Emil,masih terus berubah,termasuk koalisi yang terbentuk antara Gerindra dan PKS yang mengusung Deddy Mizwar dan Ahmad Syaikhu。 Menurutnya,perjalanan masih panjang untuk menuju pendaftaran cagub dan cawagub di Pilkada Jabar。

“Jadi kalau disimpulkan sekarang,masih berbulan-bulan sebelum pendaftaran。 Menurut saya masih terlalu dini。 Tapi dinamika itu masih awal。 Buktinya yang punya hitam di atas putih masih saya。 Pak Deddy Mizwar dan Akhmad Syaikhu belum ada deklarasi,belum hitam putih。 Masih ada dinamika dari Gerindra,dari mana-mana。 Jadi menurut saya,kepastian itu akan terjadi,kalau sudah ada hitam di atas putih,“katanya。

Kabar terbentuknya koalisi antara PDIP - Golkar dan Gerindra-PKS memang sempat menimbulkan kesan Ridwan Kamil telah ditinggalkan。 Namun,Emil sendiri mengaku tidak khawatir。

“Enggak,jangan terlalu hariwang (kuatir)。 (katanya)pak wali ditinggalkan。 Januari teh lila keneh(Januari masih lama),jangan menilai final,masih empat bulan lagi。 Dan saya pernah mengalami ini di 2013. Dan jangan lupa teman-teman media,pemilihan di Jakarta membuktikan pengusungan itu terjadi pada H-1,“ujar Emil。 -Rappler.com